Home Parenting 10 Kiat Merawat Ketahanan Keluarga di tengah Pandemi Covid 19

10 Kiat Merawat Ketahanan Keluarga di tengah Pandemi Covid 19

Merawat keluarga di masa pandemi (baca: keterbatasan-kesulitan) memang tidak ringan, sebab harus berhadapan beberapa realitas sekaligus tantangan, diantaranya: stay at home (menetap di rumah) yang bisa berdampak pada aspek ekonomi keluarga, demikian juga kebersamaan yang intens bisa menimbulkan kejenuhan dan peluang melihat kekurangan masing-masing pasangan. Pantas jika di China sejak akhir Februari 2020 terdapat 300 pasangan suami istri telah mengajukan permohonan untuk bercerai.

Jika aspek-aspek yang terdampak pada keluarga akibat pandemi ini tidak disikapi dengan baik, maka tidak mustahil ketika pandemi Covid 19 berlalu (biiznillah) keluargapun hanya menjadi kenangan.

Berikut 10 kiat merawat ketahanan keluarga:

1. Tarbiyah-Taklim dan berdakwah

Tarbiyah dan taklim dan diibaratkan sbg air dan pupuk terhadap iman yang merupakan asas fundamental ketahanan keluarga. Keluarga yang meninggalkan tarbiyah dan taklim secara perlahan akan berimplikasi pada tergerusnya iman, sementara berdakwah selain sebagai pupuk tambahan bagi iman, juga merupakan alat kontrol yang efektif terhadap pemeliharaan dan pertumbuhan iman.

2. Kenyangkan Rohani dengan berbagai ibadah mahdhah

Rohani (baca: hati) merupakan unsur yang sering tidak mendapatkan makanan yang cukup, padahal rohani yang lapar dapat mengerdilkan pertumbuhan sakinah (ketenangan) sebab rohani yang kenyang ibarat tanah yang subur untuk tumbuhnya sakinah (silahkan tadabbur al Qur’an surat Al Fath ayat 4).

Salah satu cara mengenyangkan rohani adalah memperbanyak pelaksanaan ibadah mahdhah yang merupakan ibadah transendental dengan Sang Pemberi sakinah. Diantara ibadah mahdhah yang memiliki unsur gizi yang tinggi adalah: puasa, membaca al Qur’an, dzikir dan doa, shalat sunnat rawatib, shalat dhuha, qiyamul lail, dan lain-lain.

3. Komitmen Menerima kekurangan

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pandemi Covid 19 yang mengharuskan lebih banyak di rumah bisa berdampak pada tersingkapnya kekurangan pasangan. Jika hal ini tidak dikelola secara syar’I dan kedewasaan berpikir maka tidak mustahil ketahanan keluarga akan terancam.

Beberapa tips untuk menumbuhkan kedewasaan pikir dan sikap menghadapi kekurangan pasangan adalah sbb: pahami bahwa sifat dasar manusia adalah memiliki kekurangan, namun setiap manusia diberi pula kelebihan, karena itu berusahalah mengakui kelebihannya, ingat bahwa kitapun punya kekurangan, berusaha memberi nasihat dengan cara yang baik (jauhi memberi nasihat di depan orang lain termasuk di depan anak-anak, cari cara dan momen yang tepat agar nasihat bs diterima), berusaha membantu keluar dari kekurangannya sbg wujud cinta (belahan jiwa) kita dan jangan lupa memanjatkan doa-doa terbaik untuk pasangan kita.

4. Regulasi emosi

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Orang yang tidak memiliki kemampuan mengatur emosi akan cenderung mengalami kesulitan dalam menjaga dan membangun hubungan harmonis dengan orang lain. Data-data tentang perceraian mencatat bahwa emosi yang “liar” dari pasangan merupakan penyebab utamanya hancurnya sebuah keluarga. Pantas jika Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berpesan: “ Jangan marah maka bagimu syurga” HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749). Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al Ihya menyimpulkan bahwa emosi yang “liar” akan nampak pada lisan dan sikap. Yaitu lahirnya komunikasi yang buruk dan sikap yang merendahkan pasangan. Allah mengingatkan dalam FirmanNya di dalam al Qur’an surat Al Isra ayat: Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

5. Sikap Optimis

Sikap optimis adalah bekal yang harus dimiliki untuk keluar dari masalah. Optimisme yang terbangun akan melahirkan semangat untuk kembali pada posisi dan kondisi yang normal. Larut dalam masalah bukanlah jalan keluar tetapi ia merupakan jalan buntu yang bs berakibat fatal bagi pribadi dan keluarga. Itulah sebabnya ayat-ayat Al-Qur’an banyak memberikan pesan untuk membangun sikap optimisme, diantaranya dalam QS. Al Syarh (94) ayat 5 dan Allah berfirman: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Syekh Al Utsaimin Rahimahullah memberikan penjelasan dalam tafsirnya, yang jika disimpulkan sbb: “Sesungguhnya di setiap satu masalah Allah sdh menyiapkan dua solusi bagi orang beriman” baik solusi hissi (empirik) maupun solusi yang bersifat ma’nawi (non empirik) berupa kesabaran. Jadi kesabaran dalam menghadapi masalah sesungguhnya adalah solusi.

6. Pengendalian Impuls

Yaitu kemampuan untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri sendiri. Al Qur’an menyebutnya dengan istilah “syahwat”. Al Imam Al Mawardi rahimahullahu dalam bukunya Adab Al Dun-ya wa Al Din mendefinisikan syahwat adalah keinginan yang melampaui batas dalam urusan dunia sedangkan dalam perbuatan yang melampui batas urusan agama disebut dengan hawa nafsu.

Dalam kondisi yang terbatas di masa pandemi ini, keluarga harus mampu mengendalikan impuls. Salah satu tipsnya adalah keluarga harus mampu membedakan antara kebutuhan (needs) yang harus dipenuhi dan keinginan (desire) yang pemenuhannya masih bisa ditunda.

Kebutuhan setiap keluarga apalagi yang primer umumnya tidak terlalu banyak atau masih bisa dihitung, sedangkan keinginan umumnya pada bilangan tak terhingga.

7. Empati

Turut merasakan kebahagiaan jika orang lain bahagia karena mendapatkan nikmat dan ikut bersedih ketika ditimpa musibah serta berusaha mencari jalan keluar dari musibah tersebut, inilah yang disebut empati, yaitu kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain.

Lawan-lawan empati seringkali mengintai keluarga seperti sifat iri, jika misalnya tetangga merenovasi rumahnya dan beli mobil baru mereka bahagia namun ironinya kita yang susah karena kita tidak ridha dengan nikmat Allah yang diberikan kpada siapa yang dikehendakiNya. Sementara itu jika keluarga ikut sedih, prihatin dan membantu orang yang mengalami musibah kita anggap sebagai hal yang sia-sia dan merugikan, padahal beberapa pesan tersirat dari Nabi menyebutkan justru ini adalah salah sumber rezki dan kebahagiaan rumah tangga.

8. Menjadikan pasangan sbg mitra bisnis yang seimbang (kemitraan yang seimbang)

Aqad pernikahan bisa diibaratkan semacam aqad bisnis, dimana pelakunya adalah suami istri sehingga mereka berdua adalah mitra dalam bisnis yang masing-masing memiliki hak dan kewajiban seimbang, bahkan ada hal-hal yang merupakan hak dan kebutuhan bersama, seperti dicintai, diharga, dipuji, kepuasan hubungan.

Pengabaian terhadap hak dan kewajiban sering menjadi sumber konflik dalam rumah tangga yang akan meruntuhkan bangunannya.

9. Terbuka dalam berkomunikasi

Keterbukaan dalam berkomunikasi merupakan cara yang cepat untuk mewujudkan tujuan bersama keluarga. Orang Arab mengungkapkan dengan diksi “fie al sarahah raahah” (dalam keterusterangan terdapat ketenangan). Bisa bermakna sebaliknya kesusahan itu lahir dari ketidaksiapan untuk terbuka dengan pasangan. Keterbukaan tidak hanya dalam satu aspek, namun hendaknya dilakukan dalam berbagai aspek, misalnya dalam urusan keuangan keluarga, dalam hal kepuasan hubungan, kekhawatiran, rasa lelah dan lain-lain. Ungkapan umum menyebuntukan “tiada dusta di antara kita” semua ini kita dilakukan untuk menjaga keutuhan keluarga,

10. Jangan pelit memuji pasangan

Dalam ilmu komunikasi, pujian disebut sbg jurus sakti menguasai hati seseorang. Jika kita sering menggunakan jurus ini pada orang lain, maka mengapa kita tidak gunakan pada pasangan kita yang merupakan orang yang berhak mendapatkannya? Pujian di masa yang mengundang berbagai gejala psikologis negatif (baca Covid 19) akan sangat efektif menjadi hiburan segar menghilangkan kejenuhan. Memuji pasangan seperti layaknya mengisi “tangki cinta”. Digit tangki cinta akan bertambah sekian strip sehingga kendaraan keluarga siap menempuh perjalanan panjang ke depan.

Karena itu wajah, pakaian, masakan, karya, prestasi pasangan adalah bahan-bahan segar untuk diramu menjadi sebuah pujian yang lebih menguatkan cinta.

Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmush shalihaat

Ahad, 29 Syawwal 1441H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here