Home Tadabbur Empat Jenis Fitnah dalam Surat Al-Kahfi

Empat Jenis Fitnah dalam Surat Al-Kahfi

Surat Al Kahfi adalah surat yang ditempatkan di urutan ke 18 yang terdiri atas 110 ayat, seluruh ayat-nya bersyair dengan akhiran yang sama. Surat ini menjadi surat yang disunnahkan untuk dibaca setiap hari Jum’at, selain itu juga diperintahkan untuk ditadabbur ayat-ayatnya agar ditemukan mutiara terpendam untuk lebih mengokohkan keyakinan dan menjadi motivasi dalam pengamalan.

Karena zaman sekarang ini disebut dengan zaman fitnah maka surat ini menjadi lebih penting untuk selalu dibaca dan ditadabburi karena secara global di dalamnya terkandung petunjuk tentang cara berlindung dan selamat dari berbagai jenis fitnah.

Secara eksplisit disebutkan empat fitnah yang merupakan fitnah terbesar, dimana manusia dalam kehidupannya akan diuji dengan empat fitnah tersebut;

  1. Fitnah Agama dan perjuangan da’wah; disebutkan dalam kisah Ashabul Kahfi (lihat ayat 9 sd 26) disertai cara berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut. Mereka pemuda Ashabul Kahfi berlepas diri dan lari kaumnya yang kafir, maka Allah melindungi dan menyelematkan mereka.
  2. Fitnah Harta; terdapat dalam kisah pemilik dua kebun anggur (lihat ayat 32 sd 44) dan bagaimana Allah menjadikan seorang dari mereka mengalami kegagalan ketika diuji oleh Allah lalu Allah membinasakan hartanya.
  3. Fitnah Ilmu; terdapat dalam kisah Khidr bersama Musa ‘alaihis shalatu wassalam (lihat ayat 60 sd 82). Kisah ini mennceritakan bagaimana Musa diuji oleh Allah dengan ni’mat ilmu serta bagaimana Khidr mensyukuri ni’mat ilmu dari Allah Azza Wa Jalla.
  4. Fitnah Kekuasaan; terkandung dalam kisah Dzulqarnain (lihat ayat 83 sd 101) dan bagaimana Allah menyelamatkan Dzulqarnain dari ujian dengan cara mensyukuri ni’matNya yang besar dan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Demikianlah beberapa makna agung yang terkandung dalam surat ini. Seharusnya setiap mu’min selalu mengingatnya. Itulah sebabnya disyariatkan untuk membaca surat Al-Kahfi di setiap hari jum’at (malam jum’at atau siang jum’at).

Muh. Qasim Saguni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here